Gigi merupakan bagian tubuh paling keras dan kuat. Namun, bila tidak rutin dibersihkan, kuman bakal menghancurkannya. Lewat gigi yang rusak, kuman menyusup ke dalam aliran darah dan merusak organ dalam tubuh. Karena itu, rawat gigi secara mekanis dan kimiawi sebelum Anda rugi!

Kita sudah sering mendengar bahwa mencegah timbulnya penyakit adalah langkah terbaik daripada mengobati. Sayang, kebanyakan orang tidak menggubris ajakan ini. Tidak heran, kasus-kasus penyakit, mulai dari yang ringan sampai berat, semakin meningkat jumlahnya.

Prof DR Sarlito Wirawan dalam sebuah seminar di Jakarta pernah mengatakan, “Orang lebih suka menunggu sampai giginya berlubang dan sakitnya tidak tertahankan dan akhirnya harus ke dokter gigi ketimbang merawat giginya dengan teliti secara rutin setiap hari.”

Ada beragam alasan yang bisa diajukan, kata Prof Sarlito, kenapa kecenderungan ini muncul. Salah satunya karena sebagian besar masyarakat kita kurang mendapat pendidikan yang memadai sehingga mampu percaya dengan ilmu dan teknologi.

Malas sikat gigi
Lebih dari itu, alasan yang juga masuk akal adalah adanya rasa malas serta fakta bahwa penyakit gigi, atau yang disebut periodontal disease, menginfeksi manusia secara diam-diam dan tidak terasakan oleh penderitanya. Karena itu, meski pendidikan sudah tinggi dan percaya dengan ilmu dan teknologi, kalau dua hal ini tidak diwaspadai, nasihat baik pun tidak akan mempan.

Prof Louis G DePaola, DDS, MS, dari Department of Diagnostic Sciences and Pathology Baltimore College of Dental Surgery, University of Maryland Baltimore, Amerika Serikat, dalam sebuah pertemuan dengan wartawan kesehatan di Jakarta menyebutkan bahwa angka kejadian penyakit gigi di AS mencapai 75 persen pada orang dewasa.

Sementara itu, di negara-negara Asia, khususnya di India, kasus yang sama mencapai angka 95-100 persen pada orang dewasa dan 85 persen anak-anak. “Dalam banyak kasus, penyakit ini memang sulit didiagnosis,” kata Prof DePaola.

Padahal, menurut dia, gigi rusak akan menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti serangan jantung, stroke, pneumonia, abses paru, hingga kelahiran bayi dengan berat badan ringan.

Karies dan radang
Penyakit karies gigi dan radang gusi merupakan dua penyakit kronis yang sangat lazim terjadi. Penyakit ini bergantung pada mikroorganisme yang hidup dalam plak. Mengontrol plak merupakan langkah penting mencegah dua penyakit ini dan menjaga kesehatan gigi.

Plak gigi merupakan struktur khusus yang dibentuk oleh kolonisasi rangkaian mikroorganisme di permukaan gigi. Kekuatan fisiologis alami yang bisa membersihkan rongga mulut tidak mampu menghilangkan plak gigi.

Mengontrol plak adalah cara menghilangkan plak dan mencegah akumulasinya. Ada dua cara, mekanis dan kimiawi. Secara mekanis, kita bisa membersihkan gigi dengan sikat gigi dan menghilangkan sisa kotoran menggunakan benang khusus, setiap hari.

Merawat gigi seperti ini sebenarnya persoalan yang sangat sederhana dan tidak butuh waktu banyak. “Cukup lima menit untuk sikat gigi,” ujar Prof DePaola. Sayangnya, banyak orang sering merasa malas, apalagi pada malam hari. Rasanya ingin segera tidur.

Memang, dari data yang dibuatnya, di AS hanya 10 persen pasien yang menyikat gigi dan membersihkan kotoran sisa di gigi dengan benang secara efektif setiap hari. Sebagian besar pasien tidak melakukan pembersihan secara mekanis ini.
Bagaimana dengan di Indonesia? Bisa jadi lebih parah keadaannya.

Perlu juga kumur
Sikat gigi dan pembersihan dengan benang tentu saja tidak akan cukup mampu mengontrol plak gigi. Selain plak tidak seluruhnya tersingkir dari gigi, teknik manual ini cukup sulit menyingkirkan bakteri tidak berguna. Tambahan lagi, banyak orang malas membersihkan giginya.

“Butuh perawatan tambahan atau intervensi perawatan lain untuk mencegah terjadinya gingivitis dan periodontitis,” ujar Prof DePaola.

Ada bahan pencuci mulut atau kumur yang mengandung cairan antiseptik yang bisa membunuh mikroorganisme di mulut yang menyebabkan karies (kerusakan pada zat gigi), gingivitis (radang pada gusi), dan periodontitis (radang struktur gigi, perluasan dari gingivitis).

Antiseptik ini tidak sama dengan antibiotik. Antiseptik juga tidak sama dengan desinfektan yang bisa membunuh bakteri baik di mulut. “Langkah inilah yang disebut mengontrol plak secara kimiawi,” sebutnya.

Bahan antiseptik yang sering digunakan adalah kombinasi minyak esensial. Bahan yang mengandung gabungan zat aktif, antara lain thymol (0,064 persen), eucalyptol (0,092 persen), methyl salicylate (0,060 persen), menthol (0,042 persen), ini bekerja dengan cara mengganggu atau mengacau dinding sel bakteri serta menghambat aktivitas enzim, mengeblok terkumpulnya bakteri yang berada pada permukaan gigi, meningkatkan waktu regenerasi bakteri, mengekstrak racun yang terdapat dalam kuman atau bakteri, serta menembus plak.

“Dalam sebuah penelitian yang dijalankan selama enam bulan terhadap 316 pasien, penggunaan kombinasi minyak esensial dapat mengurangi plak sampai 56,1 persen dan radang pada gusi sebanyak 22,9 persen,” katanya.

Apalagi, bila kombinasi minyak esensial ini digabung dengan NaF atau fluoride. Prof DePaola menyebutkan, dalam sebuah penelitian random pada 29 orang dewasa yang dibagi menjadi dua kelompok dan diketahui memiliki populasi bakteri Streptococcus mutans di liurnya lebih dari 10.000 CFU/mL, menunjukkan hasil yang menarik untuk disimak.

Kelompok yang menggunakan kombinasi minyak esensial dan fluoride sebagai obat kumur selama 11 hari hanya memiliki bakteri S mutans sebanyak 500 CFU/mL. Sementara itu, kelompok yang tidak menggunakannya, jumlah bakteri S mutans tetap 25.000 CFU/mL.

Jadi, rajin-rajinlah menyikat gigi, membersihkan dengan benang, lalu berkumur dengan minyak esensial berfluoride supaya penyakit gigi enggan mampir. Namun, bila gigi sudah berlubang, bahan pencuci mulut maupun sikat gigi tidak akan bisa mengatasinya.

Sumber: Kompas.com