Sampai saat ini glaukoma masih menjadi penyebab kebutaan setelah katarak. (Foto: Google)

KEBUTAAN masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Survei Kesehatan Indra pada 1993–1996 melaporkan bahwa 1,5 persen penduduk Indonesia mengalami kebutaan.

Dan penyakit yang disebut sebagai ”Si Pencuri Penglihatan” ini menempati urutan ke dua penyebab kebutaan di dunia. ”Glaukoma merupakan penyebab kebutaan terbanyak kedua setelah katarak, baik di Indonesia maupun dunia,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih pada sambutan dalam rangka peringatan hari Glaukoma Sedunia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Glaukoma merupakan gangguan penglihatan yang rentan dialami orang usia 40 tahun ke atas. Biasanya ditandai dengan kian menyempitnya lapang pandang akibat tingginya tekanan cairan dalam bola mata.

”Seiring meningkatnya angka harapan hidup di Indonesia, maka jumlah kasus glaukoma juga bisa terus bertambah,” kata Ketua Harian Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia Tjahjono D Gondhowiardjo.

Orang usia lebih dari 40 tahun seharusnya melakukan pemeriksaan glaukoma setahun sekali. Jika sudah terbukti glaukoma, maka sebaiknya 2–3 bulan sekali diperiksakan ke dokter mata. ”Glaukoma kebanyakan tidak terasa. Biasanya orang yang bersangkutan baru mengetahui ketika jalannya sudah tersandung-sandung, terjatuh, atau menabrak orang,” ucapnya.

Hanya sebagian kecil pasien yang merasakan matanya sakit (biasanya pada glaukoma akut). ”Pola dan asupan makan serta paparan sinar matahari bisa berpengaruh terhadap timbulnya penyakit ini,” sebut Tjahjono.

Ahli kesehatan mata dari Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Cosmos Mangunsong SpM menjelaskan bahwa glaukoma adalah suatu penyakit mata yang menyerang saraf mata (nervus optikus). Ini ditandai dengan kelainan lapang pandang yang khas dan adanya tekanan bola mata yang meningkat sebagai faktor risikonya.

”Jadi, kriteria untuk penegakan diagnosis glaukoma haruslah mempertimbangkan tiga hal tersebut,” ucap dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Darma Nugraha, Rawamangun, Jakarta ini. Ditekankan oleh Cosmos bahwa ketiga hal tersebut ialah kerusakan nervus optikus, defek lapang pandang, dan pada sebagian besar kasus glaukoma terdapat peningkatan tekanan bola mata.

”Penyakit ini berbahaya, maka dari itu disebut sebagai penyakit si pencuri penglihatan,” tutur dokter yang juga staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Mata, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Cosmos menuturkan, glaukoma kerap kali dikatakan sebagai penyakit si pencuri penglihatan. Sebab, terkadang pada penderita glaukoma sudut terbuka dan kronis, pasien tidak menyadari bahwa dia menderita glaukoma, hingga saat sadar bahwa penglihatannya sudah sangat terganggu. ”Banyak penderita glaukoma yang baru sadar dirinya menderita glaukoma di saat penglihatannya sudah mulai terganggu,” katanya.

Lebih lanjut Cosmos menuturkan, penyebabnya adalah pembentukan struktur bola mata yang tidak sempurna, di mana saluran keluar cairan akuos humor dalam bola mata menjadi terganggu. Dalam bola mata kita terdapat suatu cairan yang dinamakan akuos humor yang dihasilkan suatu struktur dalam bola mata yang dinamakan badan silier.

Dalam akuos humor ini terdapat berbagai nutrisi yang diperlukan untuk struktur mata lainnya, terutama kornea. Akuos humor akan berjalan dari bilik mata belakang ke bilik mata depan lalu menuju sudut mata, yaitu suatu sudut antara kornea dan iris yang di dalamnya terdapat anyaman trabekulum tempat berakhirnya aliran akuos humor yang kemudian dibuang keluar bola mata.

Pada sebagian besar kasus glaukoma aliran akuos humor terganggu yang mengakibatkan tekanan bola mata meningkat. Kondisi tekanan yang tinggi ini dapat merusak banyak struktur dalam bola mata, terutama nervus optikus sebagai saraf penglihatan yang membawa informasi penglihatan ke otak kita.

Ujung dari nervus optikus tersebut berada dalam bola mata yang dinamakan papil nervus optikus. Karena tingginya tekanan bola mata pada penderita glaukoma, maka papil nervus optikus tersebut membengkak dan penglihatan jadi kabur.

”Kerusakan ini dapat bersifat permanen sehingga penderita glaukoma bisa berakhir pada kebutaan,” ujar dokter yang juga menjadi peneliti Community Eye Health FKUI ini.

Penyebab pasti dari glaukoma hingga saat ini masih dalam penelitian. Dahulu dikatakan tekanan bola mata yang tinggi merupakan penyebab dari rusaknya nervus optikus pada penderita glaukoma. Namun kemudian terdapat suatu karakteristik penyakit glaukoma yang tidak disertai tekanan yang tinggi, tapi tetap terjadi kerusakan nervus optikus.

Pada dasarnya glaukoma dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu glaukoma sudut tertutup dan sudut terbuka. Pembagian didasarkan atas terbuka atau tertutupnya sudut iridokorneal tempat keluarnya akuos humor tersebut.

Apabila sudut tertutup, sudah tentu aliran akuos humor terhambat. Namun, penelitian kemudian diarahkan apakah mekanisme yang sama terjadi pada sudut terbuka dan glaukoma congenital. Dan sekarang penelitian diarahkan kepada gen-gen tertentu sebagai faktor risiko glaukoma.

”MYOC dan OPTN disebutsebut sebagai gen yang bertanggung jawab pada glaukoma sudut terbuka dan CYP1B1 disebut-sebut sebagai gen yang bertanggung jawab pada glaukoma kongenital,” jelas dokter lulusan Universitas Indonesia ini.

Glaukoma penyebab kedua kebutaan di Indonesia setelah katarak. Tingkat kebutaannya tertinggi di dunia, setara negara Afrika. Akan makin banyak seiring angka harapan hidup yang meningkat juga. Namun jangan dilihat angkanya, tapi pengaruhnya pada kualitas hidup. Maka tidak heran jika penyakit ini disebut sebagai penyakit pencuri penglihatan yang bisa menurunkan kualitas hidup si penderita.

Sumber Okezone