SHUTTERSTOCK

KOMPAS.com – Gusi (mudah) berdarah merupakan gejala penyakit radang gusi (gingivitis), selain gejala lainnya, seperti gusi bengkak, gusi tampak kemerahan, terasa sakit, dan ada gigi yang goyang atau lepas. Penyakit akibat infeksi yang terjadi pada gusi ini umumnya muncul karena kesehatan dan kebersihan mulut yang tidak dijaga dengan baik. Sementara penyebab lainnya adalah cara menyikat gigi yang salah, tekanan pada gusi, merokok, serta pengaruh hormonal.

Radang gusi yang terjadi pada ibu hamil, seperti yang dijelas dr Boy Abidin, SpOG, dari RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, lebih disebabkan faktor hormonal. Seperti diketahui, perubahan hormon semasa kehamilan dapat menyebabkan berbagai perubahan pada diri ibu yang tengah berbadan dua ini. Contoh, Anda jadi kerap mengalami mual-muntah di pagi hari, atau mengalami perubahan fisik secara bertahap. Yang paling dominan, perubahan hormonal bisa berdampak pada saluran pencernaan, dari mulut, lambung, usus, sampai anus.

Masalah kesehatan gigi dan mulut sendiri memang sangat perlu diperhatikan oleh ibu hamil, karena bisa mempengaruhi kondisi bayi. Namun menurut Boy, setidaknya ada lima mitos seputar kesehatan gigi dan mulut di masa kehamilan, yaitu:

Mitos: Ibu hamil tidak boleh cabut gigi
Fakta: Bila gigi bermasalah sampai Anda tidak bisa makan, apakah harus menunggu selama 9 bulan sampai bayi lahir? Bagaimana nanti asupan makan bagi janinnya? Kalau memang gigi begitu rusak dan tak bisa lagi dilakukan perawatan maka boleh dicabut. Memang ada plus dan minusnya. Gigi rusak yang tidak dicabut bisa menyebabkan peradangan. Kalaupun dicabut dapat memicu reaksi tubuh yang akan mengeluarkan hormon prostaglandin dan dapat memicu terjadinya kontraksi. Namun adanya kontraksi dapat diatasi dengan pemberian obat.

Mitos: Ibu hamil tidak boleh merawat gigi
Fakta: Perawatan gusi boleh dilakukan, misalnya pembersihan plak. Plak yang tidak dibersihkan menyimpan begitu banyak bakteri yang bisa menyebabkan radang gusi.

Mitos: Ibu hamil tidak boleh pakai pasta gigi
Fakta: Jika Anda hanya menggosok gigi dengan sikat gigi saja tanpa pasta gigi, gusi malah bisa terluka. Anda yang mengalami penciuman sensitif semasa hamil sehingga tak bisa menahan aroma pasta gigi yang terlalu kuat, bisa mengatasinya dengan memilih pasta gigi yang Anda sukai. Banyak tersedia pilihan pasta gigi yang ada.

Mitos: Ibu hamil tidak boleh mengonsumsi antibiotik
Fakta: Pada kasus-kasus tertentu dimana Anda memerlukan penanganan dengan antibiotik, dokter umumnya akan meresepkan antibiotik (biasanya yang berdosis ringan) yang telah terbukti aman bagi janin.

Mitos: Ibu hamil tidak boleh rontgen gigi
Fakta: Bila memang diperlukan, rontgen gigi boleh dilakukan dan tidak membahayakan, asalkan hanya sebatas pada bagian rongga mulut saja. Contoh, rontgen untuk melihat kondisi gigi belakang dibutuhkan foto panoramic, maka boleh saja dilakukan dan disarankan menggunakan proteksi atau apron.